Membangun Kerukunan Antarumat Beragama berbasis Budaya Lokal Menyama Braya di Denpasar Bali

Kunawi Basyir

Sari


Religious experience of multicultural society in Indonesia has frequently been characterized by conflict and violence in various regions. As a state having the motto Bhinneka Tunggal Ika, Indonesia has several challenges and problems of plurality, ethnicity, religion, and culture. However, each culture has it own local wisdom to overcome these challenges and problems. This article finds that the presence of religious life (Hindu-Muslim) in Denpasar Bali does not look like other regions in Indonesia, which is always covered by conflict and violence in the name of religion. Multicultural society in Denpasar Bali indicates ideal collaboration between Muslims and Hindus to build religious activities. It is an integral part of Balinese life and the Balinese friendly character to sprout back to Bali Glow (Bali Aga). It sure takes a long time to proceed through the dialectical theology, ideology, and socio-cultural processes. Together with social institutions, the local government had tried to maintain and protect the essence of Hindu Balinese culture, by preserving the tradition of Menyama Braya for the realization of harmonious religiosity.

[Pengalaman religius masyarakat multikultural di Indonesia sudah sering ditandai dengan konflik dan kekerasan di berbagai daerah. Sebagai negara yang memiliki motto Bhinneka Tunggal Ika, Indonesia memiliki beberapa tantangan dan masalah pluralitas, etnis, agama, dan budaya. Meskipun demikian, setiap budaya memiliki kearifan lokal yang dapat mengatasi berbagai tantangan dan permasalahan di atas. Artikel ini menemukan bahwa kehadiran kehidupan keagamaan (Hindu-Muslim) di Denpasar Bali tidak terlihat seperti daerah lain di Indonesia, yang selalu ditutupi oleh konflik dan kekerasan atas nama agama. masyarakat multikultural di Denpasar Bali menunjukkan kolaborasi ideal antara Muslim dan Hindu untuk membangun kegiatan keagamaan. Ini adalah bagian integral dari kehidupan Bali dan karakter ramah Bali bertunas kembali ke Bali Cahaya (Bali Aga). Tentu membutuhkan waktu yang lama untuk melanjutkan melalui teologi dialektis, ideologi, dan proses sosial budaya. Bersama dengan lembaga-lembaga sosial, pemerintah setempat telah berusaha untuk mempertahankan dan melindungi esensi dari budaya Hindu Bali, dengan melestarikan tradisi Menyama Braya untuk realisasi religiusitas yang harmonis.

Kata Kunci


religiosity, menyama braya, religious harmony, Muslim-Hindu relation, Bali.

Teks Lengkap:

PDF

Referensi


Anwar, M. Syafi’i. “Memetakan Teologi Politik dan Anatomi Gerakan Salafi Militan di Indonesia.” Dalam Genealogi Islam Radikal di Indonesia: Gerakan, Pemikiran, dan Prospek Demokrasi, ed. M. Zaki Mubarak. Jakarta: LP3ES, 2008.

Artika, I Wayan. “Bali Jelek.” Dalam Sisi Dibalik Politik Identitas, Kekerasan, dan Interkoneksi Global, ed. I Ngurah Suryawan. Denpasar: Universitas Udayana Press, 2012.

Azra, Azyumardi. Pergolakan Politik Islam: Dari Fundamentalis, Modernis, Hingga Post-Modernisme. Jakarta: Paramadina, 1996.

Budarsa, Gede. “Lebaran Nyama Selam di Pegayaman.” Dalam http://antropologiudayana.blogspot.co.id/2012/08/.html (diakses 16 September 2016).

Couteau, Jean dan Usadi Wiryatnaya. Bali di Persimpangan Jalan: Sebuah Bunga Rampai. Denpasar: Nusa Data Indo Budaya Press, 1995.

Dharmika, Ida Bagus. Kerukunan Antar Umat Beragama di Desa Angantiga Petang Badung. Denpasar: Universitas Hindu Indonesia Bali, 2000.

______. “Menyama Braya: Hakikat Hubungan Manusia dengan Manusia di Bali,” dalam Makalah disampaikan pada Musyawarah Majelis Agama dalam Forum Komunikasi Antar Umat Beragama Prop. Bali. Oktober 2005.

Glazer, Nathan. Ethnic Dilemmas: 1964-1982. Cambridge: Harvard University Press, 1982.

Huntington, Samuel P. The Clash of Civilizations and the Remaking of World Order. New York: t.p., 1993.

Husein, Fatimah. Muslim-Christian Relations in the New Order Indonesia: The Exlusivist and Inclusivist Muslims’ Perspectives. Bandung: Mizan, 2005.

Kymlicka, Will. Kewargaan Multikultural. Jakarta: LP3ES, 2003.

Madjid, Nurcholish. Islam Doktrin Peradaban: Sebuah Telaah Kritis tentang Masalah Keimanan, Kemanusiaan, dan Kemodernan. Jakarta: Paramadina, 1992.

Mudana, I Gede.“Kesenian Sebagai Fokus Budaya Bali.” Dalam Bali Pos, 9 Juli 1997.

______.“Hindu (di) Bali, Politik, dan Perlunya Masyarakat Sipil.” Dalam Jelajah Kajian Budaya, ed. I Made Suastika. Denpasar: Pustaka Larasan bekerjasama dengan Program Studi Magister dan Doktor Kajian Budaya Universitas Udayana, 2012.

Ngurah, I Gusti Made. Saling Menerima dan Menghargai Perbedaan Melalui Dialog Antar umat Beragama dalam Masyarakat Multikultural. Denpasar: Yayasan Sari Kahyangan Indonesia, 2010.

Picard, Michel. Bali: Cultural Tourism and Touristic. Singapore: Archipelago Press, 1996.

Santika, Degung. “Sweeping Bali, Sekala dan Niskala.” Dalam Kompas, 7 April 2004.

Setia, Putu. “Menyama Braya.” Dalam Bali Pos, 12 April 2004.

Smith, Huston. Agama-agama Manusia, terj. Safroedin Bahar. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia, 1995.

Sukarma, I Wayan. “Pariwisata Bali Pascabom Kute.” Dalam Bali yang Hilang: Pendatang, Islam dan Etnisitas di Bali, ed. Yudhis M. Burhanuddin. Yogjakarta: Kanisius, 2008.

Suparlan, Parsudi. “Masyarakat Majemuk, Masyarakat Multikultural, dan Minoritas: Memperjuangkan Hak-hak Minoritas.” Dalam Makalah dipresentasikan dalam Orasi Ilmiah Dies Natalis 41 dan Wisuda 29 Universitas Hindu Indonesia, 9 Juli 1997; dan dipresentasikan dalam Workshop Yayasan Interseksi. Hak-Hak Minoritas Dalam Landscape Multikultural, Mungkinkah di Indonesia? Denpasar: Wisma PKBI, 2004.

Suryawan, I Ngurah. Sisi Dibalik Bali Politik Identitas, Kekerasan, dan Interkoneksi Global. Denpasar: Universitas Udayana Press, 2012.

Swastha, I Dewa Gede Ngurah. “Memahami Fungsi Keagamaan Desa Pakraman.” Dalam Bali Pos, Jumat 15 April 2007.

http://madyapadma-online.com (25 Oktober 2013).


Refbacks

  • Saat ini tidak ada refbacks.




_______________________________________________________

Religió: Jurnal Studi Agama-agama (RJSAA)
Program Studi Perbandingan Agama Fakultas Ushuluddin dan Filsafat UIN Sunan Ampel.
Jl. Ahmad Yani 117 Surabaya, Jawa Timur 60237, Indonesia.

Map Coordinate: Lat. -7.321334, Long. 112.735098

 

View My Stats